Masa Kemunduran Pendidikan Islam (Sejarah Pendidikan Islam)
MAKALAH
MASA KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”
Dosen Pengampu : Drs. Iwan Falahudin, M.Pd.

DISUSUN OLEH :
Ardiningrum Dwi Septyas Putri
17211129
PERGURUAN
TINGGI LA TANSA MASHIRO
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM LA TANSA MASHIRO
Jalan Soekarno-Hatta Pasir Jati Telp. (0252)
207163/206794 Rangkasbitung 42317
E-mail : latansamashiro@gmail.com Website : siakadstai.latansamashiro.ac.id
2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala Puji Syukur senantiasa tercurahkan kepada
Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan segala kesalahan dan
kekurangannya, guna memenuhi tugas mata kuliah “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”.
Sholawat serta salam tidak lupa saya haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW,
dan semoga kita semua termasuk umatnya yang kelak mendapatkan syafa’atnya kelak
di hari qiamat. Āmīn.
Makalah ini telah saya susun semaksimal mungkin dan saya juga
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Meskipun saya sebagai penyusun berharap isi dari makalah ini bebas
dari kesalahan dan kekurangan. Namun, tentunya kami menyadari bahwa saya
hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan dan
kesempurnaan itu hanya milik Allah semata. Oleh karena itu, saya sebagai
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya laporan
ini diwaktu mendatang. Semoga Allah SWT memberkahi makalah ini, sehingga dapat
memberikan manfaat kepada kita semua. Āmīn...
Bogor, 21 April 2020
Pemakalah
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
Latar Belakang Sosial Politik Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam
Profil Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
Ulama Yang Terkenal Pada Masa Kemunduran Pendidikan Islam
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam secara khusus tidak dapat disamakan dengan makna
pendidikan secara umum. Pendidikan Islam dikenal dan diyakini oleh penganut
agama Islam sebagai suatu kegiatan pendidikan yang bersumber dari pokok ajaran
Islam (al-Quran) dan al-Hadits sebagai penjelasnya. Pendidikan Islam yang mulai
dirintis sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW mengalami pasang
dan surut seiring dengan perjalanan panjangnya melintasi ruang dan waktu hingga
masa sekarang. Hal tersebut bergantung pada bagaimana pelaku sejarah pada
masanya itu melaksanakan proses pendidikan.
Puncak kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan berkembang luasnya
lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal di berbagai pusat
kebudayaan Islam. Hal ini dipengaruhi oleh jiwa dan semangat kaum muslimin pada
waktu itu yang sangat dalam penghayatan dan pengamalannya terhadap ajaran
Islam. Namun pendidikan Islam yang pernah mengalami masa puncak tersebut,
lambat laun mulai mengalami kemerosotan jika dibandingkan dengan masa sebelumnya.
Peristiwa ini belangsung sejak jatuhnya kota Baghdad di bagian Timur dan kota
Cordova di bagian Barat yang keduanya adalah menjadi pusat pendidikan Islam
pada waktu itu. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga menjadi sebab
kemunduran pendidikan Islam.
Dengan
demikian, dalam sebuah lembaga pendidikan pasti terjadi pertumbuhan dan
perkembangan, dan ini sama halnya dengan pendidikan Islam. Dalam pendidikan
Islam ada beberapa masa yaitu masa perintisan, masa kejayaan, masa kemunduran,
dan ada pula masa pembaharuan. Maka dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan
beberapa bagian penting yang terkait dengan masa kemunduran yang terjadi
sekitar abad 13-18 Masehi, yaitu; latar belakang sosial politik, faktor-faktor
penyebab, kebangkitan pendidikan barat, profil pendidikan Islam, dan ulama
terkenal pada masa kemunduran.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana
Latar Belakang Sosial Politik Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran?
2.
Apa
Saja Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam?
3.
Bagaimana
Profil Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran ?
4.
Siapa
Saja Ulama Yang Terkenal Pada Masa Kemunduran Pendidikan Islam ?
C.
Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Untuk
Mengetahui Latar Belakang Sosial Politik Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
2.
Untuk
Mengetahui Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam
3.
Untuk
Mengetahui Profil Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
4.
Untuk
Mengetahui Ulama Yang Terkenal Pada Masa Kemunduran Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang Sosial Politik Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
Tampilnya dinasti Abasiyah yang menggantikan dinasti Umayyah dalam
peradaban Islam membawa corak baru dalam budaya Islam dan terutama dalam bidang
pendidikan Islam. Pada periode pertama dinasti Abasiyah (132 H/750 M-232 H/847
M), dunia pendidikan Islam mengalami masa kejayaannya (lahirnya sekolah-sekolah
yang tak terhitung banyaknya yang tersebar dari kota-kota sampai desa-desa) dan
sekaligus pada periode kedua dinasti Abasiyah (847 M-942 M) menjadi awal
kemunduran intelektual Islam dan terlihat nyata pada periode kelima (akhir
dinasti abasiyah 1258 M).1 Hal ini sesuai dengan siklus sejarah yang bersifat
faktual yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, yaitu ada
generasi perintis, generasi penerus, generasi penikmat, dan generasi
penghancur.
Beberapa hal yang melatar belakangi dinasti tersebut mundur/hancur,
tentunya juga berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan Islam di dunia.
Adapun beberapa hal yang menjadi akar kehancurannya yaitu; adanya faktor
internal (konflik dalam keluarga Istana, dominasi militer, keuangan, berdirinya
dinasti-dinasti kecil, luasnya wilayah, dan fanatisme keagamaan/aliran-aliran)
dan faktor ekternal (terjadinya perang salib dan serangan tentara Mongol).
Sedangkan Islam di bagian Barat telah mengalami kemajuan dan kesuksesan
selama kurang lebih delapan abad. Spanyol dengan pusat ibu kotanya di Cordova
telah menjadi kiblat ilmu pengetahuan yang menyaingi Baghdad. Perkembangan ilmu
pengetahuan di Spanyol juga mengalami kemandekan bahkan kemunduran sebagaimana
kota Baghdad karena beberapa faktor:
·
adanya
konflik kekeluargaan karena tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan diantara ahli
waris,
·
lemahnya
figur dan kharismatik para khalifah pengganti,
·
perselisihan
di kalangan umat Islam sendiri,
·
konflik
Islam dengan Kristen di dalam negeri karena kebijakan pemerintah tidak melakukan
islamisasi secara sempurna,
·
munculnya
kerajaan-kerajaan kecil yang saling berebut kekuasaan. Dalam posisi yang lemah
tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang Kristen Spanyol untuk menyerang dan
menghancurkan Islam. Hancurnya kekuasaan Islam di Baghdad dan Cordova adalah
sebagai faktor utama yang melatar belakangi kemunduran pendidikan Islam.
B.
Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam
1.
Kejatuhan
Baghdad di Timur dan Cordova di Barat
a. Kejatuhan Baghdad (1258 M)
Masa Daulah Abbasiyah dikenal sebagai masa keemasan. Namun, dengan kejatuhan
Baghdad di Timur (1258 M) sebagai awal periode kemunduran pendidikan yang
ditandai kemunduran intelektual. Menurut para sejarah diantara faktor-faktor
yang menyebabkan keruntuhan daulah abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi dua
faktor:
a)
Faktor
Internal
Ø Perpecahan ,perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam keluarga
Abbasiyah sendiri. Walaupun hal tersebut terjadi di dalam lingkungan keluarga
sendiri, namun mempunyai pengaruh yang dalam dan luas sampai ke pendidikan
islam.
Ø Gaya hidup yang berlebih-lebihan, oleh sebagian khalifah bahkan
diikuti oleh keluarga, mereka dapat mendatangkan malapetaka. Sebagaimana pada
diri khalifah al-Mu’taz. Al-mu’taz adalah khalifah pertama yang mengadakan
kendaraan dengan memakai hiasan emas. Sehingga mereka menghabiskan uang yang
tersedia di Bait al-Mal.
Ø Kelemahan sebagian dari khalifah, khalifah merupakan pusat dari
struktur kekuasaan pemerintahan, seharusnya dipegang oleh orang-orang yang kuat
dipandang dari berbagai segi. Namun, pada masa kemunduran kelemahan khalaifah
merupakan sebab diantara sekian banyak sebab-sebab yang membawa kemunduran dan
kehancurandi bidang pemerintahan.
Ø Pada masa tertentu hanya sebagai lambang, khalifah tunduk dibawah
kekuasaan orang-orang yang berkuasa dibawahnya. Khalifah sewaktu-waktunya dapat
diturunkan bahkan kalau perlu dapat saja dibunuh.
Ø Persaingan dan pertentangan antar unsur Arab, Persia, dan Turki,
pada masa Daulah Abbasiyah itu erat sekkali kaitannya dengan perpecahan dan
perebutan kekuasaan serta pengaruh dalam keluarga khalifah.
Ø Perpecahan yang disebabkan perbedaan mazhab, menyebabkan terjadinya
pertentangan dan perpecahan karena masing-masing mazhab mengaku bahwa mazhabnya
yang benar dan mazhab yg lain adalah salah.
b)
Faktor-faktor
Eksternal
Ø Berkembangannya ajaran teologi asy’ari dan tasawuf al-Ghazali yang
mengajarkan tawakal dan fatalism
Ø Dominan pengaruh Turki di dunia Islam
Ø Serangan Mongol ke Baghdad
Ø Perang Salib
b.
Kejatuhan
Cordova (1236 M)
Setelah mencapai kemajuan dan kesuksesan kurang lebih selama
delapan abad Andalusia (Spanyol) menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Jika Baghdad
mengalami masa kemunduran dan kehancuran setelah mencapai puncak kejayaannya,
maka Cordova di Andalusia mengalami hal yang sama.
a)
Faktor
Internal
Ø Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan
munculnya perebutan kekuasaan di antara ahli waris kerajaan.
Ø Lemahnya figur dan kharismatik yang dimiliki khalifah. Khalifah
tidak lebih sebagai simbol saja, sedangkan yang menjalankan pemerintahan
sepenuhnya ditangan Wazir.
Ø Terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam itu sendiri yang
disebabkan perbedaan kepentingan
Ø Tatkala umat islam menguasai Andalusia,kebijakan para penguasa
Muslim tidak melalukan Islamisasi secara sempurna tetapi membiarkan orang-orang
kristen mempertahankan hukum dan tradisi mereka asalkan tetapkan tetap membayar
upeti dan tidak mengadakan perlawanan bersenjata. Dan tatkala umat islam
mengalami kelemahan,mereka bangkit menghancurkan umat islam.
Ø Munculnya Muluk al-Thawaif (kerajaan-kerajaan kecil) yang
masing-masing saling berebut kekuasaan.
b)
Faktor
Eksternal
Daulah Ummayyah yang berada dalam posisi yang lemah karena
faktor-faktor tersebut diatas, muncul serangan dari kristen yang sudah menyatu.
Akibatnya Cordova jatuh di bawah kekuasaan Kristen. Dengan jatuhnya Cordova,
mka daerah kekuasaan Daulah Umayyah yang lainnya dapat pula dikuasai oleh orang
Kristen dengan mudah.
M.M Sharif dalam bukunya Muslim Thought, mengungkapkan gejala
kemunduran pendidikan dan kebudayaan islam tersebut sebagai berikut: “...telah
kita saksikan bahwa pikiran Islam telah melaksanakan satu kemajuan yang hebat
dalam jangka waktu yang terletak diantara abad ke VIII dan abad ke XIII
M...sebagai satu perbekalan yang matang untuk menjadi dasar pokok dalam
mengadakan pembangkitan Eropa(renaissance)”
Selanjutnya diungkapkan oleh M.M Sharif, bahwa pikiran Islam
menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah sampai abad ke XVIII M.
Ø Telah berkelebihan filsafat Islam, Al-Ghazali mendapat sukses di
Timur dan Ibnu Rusyd mendapat sukses di Barat.
Ø Umat islam terutama para pemerintahannya melalaikan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
Ø Terjadinya pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar,
sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan
ilmu pengetahuan.
Dengan semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual, maka semakin
statis perkembangan kebudayaan islam, karna daya intelektual generasi
penerusnya tidak mampu mengadakan kreasi-kreasi budaya baru. Kehancuran total
yang dialami oleh kota Baghdad dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan
kebudayaan,menandai runtuhnya sendi pendidikan dan kebudayaan islam. Kebekuan
intelektual dalam kehidupan kaum muslimin yang diwarnai dengan berkembangnya
berbagai macam aliran sufi yang karena terlalu toleran terhadap ajaran mistik
yang berasal dari agama lain (Hindu, Budha, Neo Platonisme) telah memunculkan
berbagai macam tarikat yang menyimpang jauh dari ajaran islam, telah
memunculkan berbagai tariqat yang menyimpang jauh dari ajaran agama islam.
C.
Profil Pendidikan Islam Pada Masa Kemunduran
Pada masa jayanya pendidikan Islam, kedua pola pendidikan tersebut
menghiasi dunia Islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi.
Setelah pola pemikiran rasional diambil alih pengembangannya oleh dunia Barat
(Eropa) dan dunia Islam pun meninggalkan pola berpikir tersebut, maka dalam
dunia Islam tinggal pola pemikiran sufistis, yang sifatnya memang sangat
memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia
material. Pola pendiddikan yang dikembangkannya pun tidak lagi menghasilkan
perkembangan budaya Islam yang bersifat material. Dari aspek kemunduran, atau
setidaktidaknya pendidikan islam dikatakan mengalami kemandegan.
Jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M.
bukan saja pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah
dalam dominasi politiknya, tetapi berdampak sangat luas bagi perjalanan sejarah
umat Islam yang dikenal sebagai titik awal kemunduran umat Islam di bidang
Politik dan Peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan
umat. Pada masa jayanya kota Baghdad dikenal secara luas adalah pusat
kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah Ilmu
Pengetahuan dan filsafat yang telah berhasil mengguli kota-kota lain yang
dikenal sebagai pusat peradaban manusia. Dengan dibumihanguskannya kota Baghdad
berikut kekayaan intelektual yang ada didalamnya, maka berakhirlah kebesaran
pemerintahan Islam masa lalu, baik dalam wilayah kekuasaan maupun intelektual.
Penghancuran pusat kebudayaan Islam itu juga berakibat hilangnya
dan putusnya akar sejarah intelektual yang telah dengan susah payah dibangun
pada masa awal-awal Islam . Adanya kekalahan politik itu berpengaruh besar pada
cara pandang dan berpikirnya umat Islam yang telah mulai mengalihkan pandangan
dan pemikiran umat Islam yang semula berpaham dinamis berubah menjadi berpaham
fatalis. Berubahnya paradigma berpikir itu amat disayangkan oleh banyak
penganjur pembaharuan pemikiran Islam yang datang pada masamasa kemudian.
Muhammad Iqbal misalnya pernah menulis kekecewaannya itu di dalam suatu buku
“During the last five hundred years religious thought ini Islam has been
practically stationary”(Hampir sepanjang lima ratus tahun lamanya pemikiran di
dalam Islam praktis menjadi statis).
Kemunduran dan kehancuran Islam di Baghdad, di satu sisi menurut
sebagian pemerhati sejarah Islam yang masih melihat adanya harapan, jika ingin
jujur tidaklah dapat dikatakan sebagai kemunduran dan kehancuran Islam secara
total. Sebab di belahan dunia lain, dengan tidak dapat dibantah adanya suatu
kenyataan sejarah Islam yang lain karena telah berhasil menancapkan kemajuannya
di daerah Spanyol di bawah pemerintahan Islam. Tetapi sesungguhnya kemajuan
yang mereka banggakan itu sifatnya juga sangat kecil dan tidak sporadis, karena
hanya terbatas pada wilayah Granada saja. Dan secara politik penguasa Islam di
Granada yaitu Bani Ahmar (1332 M s/d 1492 M). hanya berkuasa pada wilayah yang
sangat kecil. Jadi Argumentasi jatuhnya Baghdad sebagai permulaan terjadinya
kemunduran Islam argumentasi yang sangat dapat diterima.
Adanya kemandegan dan kemunduran dalam segala bidang secara praktis
sangat mempengaruhi juga bidang kajian Pendidikan Islam. Kalau Pendidikan Islam
di masa kemajuannya telah berhasil memberikan sumbangan dalam melahirkan sumber
daya manusia unggulan melalui lembaga-lembaga pendidikan-nya yang belum pernah
dikenal di masa itu, maka pada masa kemunduran Islam semua itu telah harus
terhenti atau minimal beralih fungsi. Pendidikan kuttab, masjid, dan madrasah
merubah fungsinya dari yang dulunya dikenal sebagai lembaga penelitian dan
riset yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir kini beralih fungsi menjadi
suatu lembaga yang terbatas kajiannya pada bidang-bidang keislaman dan pada
tingkat pembinaan lebih banyak ditekankan pada kemahiran penghapalan
siswa-siswanya daripada melatih mereka berpikir.Beberapa narasi yang dapat
dilihat sebagai bukti dan gambaran pengaruh warisan produk masa lalu mungkin
perlu dikemukakan di sini. Muhammad Abduh, seorang tokoh modernis Mesir, pernah
menolak kemauan ayahnya yang memaksanya untuk melanjutkan sekolahnya di Masjid
Manawi. Dia menolak karena sistem pengajaran di situ melulu menggunakan sistem
hapalan tanpa diperlukan pegertian dan pengetahuan yang lebih luas akan arti
dan makna yang dihapalkannya. Muhammad Abduh adalah tokoh modernis yang sangat
menjunjung tinggi kemampuan rasional. Selain Muhammad Abduh, Thaha Husein juga
mengalami kekecawaan yang sama ketika dikirim orang tuanya untuk belajar di
Al-Azhar. Thaha Husein mendapati sistem pengajaran yang ada di al-Azhar sangat
dogmatis dan sempit, serta materi pelajarannya sangat tradisional dan
menjemukan. Sehingga dia menolak kemauan orang tuanya itu.9 Demikianlah
gambaran umum yang ada mengenai warisan yang masih berlanjut sampai awal abad
ke-20, warisan dari masa kemunduran Islam.
Perubahan sistem pengajaran dan materi pelajaran tidak hanya
terjadi di lembaga-lembaga pendidikan formal sebagaimana yang telah disebutkan
tadi, perubahan juga terjadi di lembaga-lembaga non-formal. Lembaga pendidikan
non-formal, misalnya, Ribath dan Zawiyah, bila pada masa kemajuan Islam terjadi
masih mengajarkan ilmu-ilmu alat lainnya di samping latihan-latihan tarekat,
maka pada masa kemunduran Islam pelajaran telah dibatasi oleh para syaikh hanya
menjadi suatu lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk hanya melahirkan dan
mencetak seorang sufi yang menyakini segala fatwa sang Syaikh adalah suatu
dogma. Selain itu, terdapat pula lembaga-lembag non-formal yang sudah tidak
terdengar lagi, seperti bait al-Hikmah, observatorium, rumah sakit dan
perpustakaan.
Tidak hanya lembaga-lembaga Pendidikan Islam yang mengalami
dis-orientasi pada masa kemunduran Islam ini, literature Islam juga mengalami
hal yang sama. Literatur Islam sejak masa kemunduran ini sudah tidak lagi
menonjolkan sisi orisinalitasnya, atau melahirkan sesuatu yang “baru”, tetapi
lebih banyak menggambarkan pengulangan-pengulangan dari apa yang pernah ditulis
pendahulunya. Tidak terbatas pada itu saja, dalam cara bersikap terhadap hasil
dari tulisan-tulisan para ulama diyakini sekali sebagai kebenaran mutlak yang
tidak dapat digugat oleh sembarang orang. Tulisan para ulama itu mereka pandang
adalah sebagai fatwa yang baku dan mutlak. Di sini dijumpai bahwa
pemikiran-pemikiran ulama terdahulu oleh para murid atau pengikutnya tidak lagi
didudukkan sebagai produk ijtihad ulama (hasil pemikiran individu yang masih
bersifat relatif) tetapi lebih diletakkan sejajar dengan Al-Qur’an dan Hadis.
Karena itu lahirlah ungkapan dan beredar luas di kalangan umat Islam bahwa
“Pintu Ijtihad telah tertutup” dan diterima oleh khalayak saat itu secara umum.
Keadaan seperti itu berlanjut sampai berakhirnya masa Kerajaan Turki Usmani.
Tercatat bahwa penguasa Turki Usmani lebih cenderung untuk menegakkan suatu
paham keagamaan saja dan menekan (pressure) kepada madzhab lain. Akibatnya dari
itu semua adalah terjadinya kelesuan intelektual di bidang ilmu keagamaan dan
mulai berkembang dan merajalelanya sikap fanatik yang berlebihan kepada satu
madzhab atau syaikh, karena itu ijtihad hampir-hampir tidak dapat berkembang. Ulama
hanya seanantia mencari usaha penyelematan dirinya dengan hanya suka menulis
buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap
karya-karya masa klasik.
Dalam pada itu juga pada masa ini berkembang pula istilah-istilah
yang merusak arti sebenarnya yang diinginkan dari penerapan prinsip kebebasan
berfikir. Istilah tersebut antara lain seperti istilah ijtihad fi al-madzhab
(ijtihad hanya pada persoalan-persoalan di dalam madzhab) sebagai arti lain
dari pengertian ijtihad atau ijtihad mutlak. Ijtihad mutlak sangat bertolak
belakang dengan ijtihad fi al-Madzhab yang cenderung bersikap fanatis yang
berlebihan ketika menonjolkan kelebihan madzhabnya.
Dalam mencari tahu sebab-sebab terjadinya kemunduran
intelektualisme Islam, para pemikir dan peneliti masalah pendidikan Islam
menuding bahwa Tasawuf dan sufisme lah akar sesungguhnya dari terjadinya
kemunduran umat Islam. Mereka tidak mau melihat kemunduran Islam pada abad
ke-13 merupakan suatu peristiwa yang kompleks yang antara satu sebab dengan
sebab lainnya tidak bisa dipisahkan, yaitu adanya suatu kondisi sosial-politik
yang kurang mendukung bagi kemajuan itu. Adanya tudingan yang diarahkan kepada
tasawuf dan sufisme bagi sebab adanya kemunduran membuat hampir seluruh aliran
modern dalam Islam terkesan mengambil sikap ekstra hati-hati dalam
menanggapinya, tetapi ada pula yang terangterangan mengarahkan tembakannya pada
mereka itu. M.M. Syarif termasuk ke dalam kategori cendikiawan Islam juga
menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa di antara sebab kemunduran pemikiran
Islam adalah tumbuh dan berkembangnya pemikiran sufistik. M.M. Syarif juga
menambahkan bahwa pemikiran seperti itu dibawa dan dipengaruhi oleh
pendapatpendapat fatalis al-Ghazali yang bertentangan dengan pemikiran Ibnu
Rusyd yang bercorak rasionalitas yang dibawa dari dunia Islam ke Barat.
Tudingan-tudingan terhadap tasawuf dan sufisme yang diidentifikasikan sebagai
sebab kemunduran menurut sebagian ulama lainnya sesungguhnya perlu diuji
kebenarnnya. Karena bila diperhatikan sumber materi ajaran tasawuf yang notaben
adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak berbicara tentang ajaran-ajaran yang
mengandung dan mengarah kepada pembentukan pribadi yang suci. Selain itu juga
Al-Qur’an dan hadis berbicara banyak tentang nilai-nilai kejujuran, menolong
sesama, kesetiaan, dan kesetiakawanan sosial. Kesemua ajaran-ajaran tadi adalah
titik tekan yang prinsipil bagi ajaran-ajan tasawuf. Disini yang terjadi adalah
kebalikan dari yang ditundingkan tadi, karena yang terlihat adalah malah
konstribusi ajaran-ajaran tasawuf bagi pendidikan Islam, yakni pembinaan akhlak
yang merupakan salah satu tujuan Pendidikan Islam.
M.M Sharif dalam bukunya Muslim Thought, mengungkapkan gejala
kemunduran pendidikan dan kebudayaan islam tersebut sebagai berikut :”… telah
kita saksikan bahwa pikiran Islam telah melaksanakan satu kemajuan yang hebat
dalam jangka waktu yang terletak di antara abad ke VIII dan abad ke XIII M ..
kemudian kita memperhatikan hasil-hasil yang diberikan kaum muslimin kepada
Eropa, sebagai satu perbekalan yang matang untuk menjadi dasar pokok dalam
mengadakan pembangkitan Eropa (renaissance)”. Selanjutnya diungkapkan oleh M.M
Sharif, bahwa pikiran islam menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah
sampai abad ke XVIII M. di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam tersebut
antara lain dilukiskannya sebagai berikut :
1. Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistis) yang
dimasukkan oleh Al-Ghazali dalam alam Islami di Timur, dan berkelebihan pada
Ibnu Rusyd dalam memasukkan filsafat Islamnya (yang bercorak rasionalistis) ke
dunia Islam di barat. Al-Ghazali dengan filsafat Islamnya menuju kearah bidang
rohaniah hingga menghilang ia ke dalam mega bidang tasawuf, sedangkan Ibnu
Rusyd dengan filsafatnya menuju kearah yang bertentangan dengan Al-Ghazali.
Maka Ibnu Rusyd dengan filsafatnya menuju ke jurang materiallisme. Al-Ghazali
mendapat sukses di Timur, hingga pendapat-pendapatnya merupakan satu aliran
yang terpenting Ibnu Rusyd mendapat sukses di Barat hingga pikiran-pikirannya
menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran Barat.
2. Umat islam, terutama para pemerintahnya (khalifah, sultan, amir-amir)
melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak member kesempatan untuk
berkembang. Kalau pada mulanya para pejabat pemerintahan sangat memperhatikan
perkembangan ilmu pengetahuan, dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada
para ahli ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun dan melemahnya kehidupan
umat Islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan
pemerintahan, sehingga melupakan pengemb angan ilmu pengetahuan.
3. Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan
serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran-kehancuran yang
mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan
di dunia Islam. Sementara itu obor pikiran Islam berpindah tangah ke tangan
kaum Masehi, yang mereka ini telah mengikuti jejak kaum muslimin yang
menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran Islam itu. Dengan
semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual, maka semakin statis
perkembangan kebudayaan islam, karena daya intelektual generasi penerus tidak
mampu mengadakan kreasikreasi budaya baru, bahkan telah menyebabkan
ketidakmampuan untuk mengatasi persoalan- persoalan baru yang dihadapi sebagai
akibat perubahan dan perkembangan zaman. Ketidakmampuan intelektual tersebut,
merealisasi dalam “pernyataan” bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Terjadilah
kebekuan intelektual secara total. Dalam hal ini Fazlur Rahman, dalam bukunya
Islam, menjelaskan tentang gejala- gejala kemunduran/kemacetan intelektual Islam
ini sebagai berikut :
Ø Pentutupan pintu ijtihad (yakni pemikiran yang orisinil dan bebas)
selama abad ke 4 H/10 M dan 5 H/ 11 M telah membawa kepada kemacetan umum dalam
ilmu hukum dan ilmu intelektual, khususnya yang pertama. Ilmu-ilmu intelektual,
yakni teologi dan pemikiran keagamaan, sangat mengalami kemunduran dan menjadi
miskin karena pengucilan mereka yang disebut terakhir ini, khususnya filsafat,
dan juga pengucilannya dari bentuk-bentuk pemikiran keagamaan seperti yang
dibawa oleh sufisme.
Ø Kehancuran total yang dialami oleh kota Bagdad dan Granada sebagai
pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, menandai runtuhnya sendi-sendi
pendidikan dan kebudayaan Islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan semua
buku-buku ilmu pengetahuan dari kedua pusat pendidikan di bagian Timur dan
Barat dunia Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan di seluruh
dunia Islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tetapi tidak
demikian halnya dalam kehidupan batin atau spiritual. Kehancuran dan
kemunduran- kemunduran yang dialami oleh umat Islam, terutama dalam bidang
kehidupan intelektual dan material ini dan beralihnya secara drastis,
pusat-pusat kebudayaan dari dunia Islam ke Eropa, menimbulkan rasa lemah dari
dan putus asa di kalangan masyarakat kaum muslimin. Ini telah menyebabkan
mereka lalu mencari pegangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan kehidupan
mereka. Aliran pemikiran tradisionalisme dalam Islam mendapatkan tempat di hati
masyarakat secara meluas. Mereka kembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan.
Ø Dalam bidang fiqh, yang terjadi adalah berkembangnya taqlid buta
dikalangan umat. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan mereka
sangat statis, tidak ada problem-problem baru dalam bidang fiqh. Apa yang sudah
ada dalam kitab-kitab Fiqih lama harus diikuti seta dilaksanakan sebagaimana
adanya.
Ø Kehiduapn sufi berkembang dengan pesat. Keadaan frustasi yang
merata di kalangat umat, menyebabkan orang kembali kepada tuhan (bukan hanya
sekedar dalam sikap hidup yang fatalistis), dalam arti yang sebenarnya, bersatu
dengan Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh para ahli sufi. Madrasah-
madrasah yang ada dan yang berkembang diwarnai dengan kegiatan- kegiatan sufi.
Madrasah- madrasah berkembang menjadi zawiyah- zawiyah untuk mengadakan
riyadah, merintis jalan untuk kembali an menyatu dengan Tuhan, di bawah sistem
riyadhah dan jalan atau cara-cara tertentu yang dikembangkan untuk menuntun
para murid yang dikenal selanjutnya dengan istilah tariqat.
Keadaan yang demikian, sebagaimana yang dilukiskan oleh Fazlur
Rahman: Di madrasah- madrasah yang bergabung pada khalaqah- khalaqah dan
zawiyah- zawiyah sufi, karya-karya sufi dimasukkan ke dalam kuriulum formal,
khususnya di india di mana sejak abad ke 8 H/14 M karya-karya al-suhrawardi
(pendiri ordo suhrawardiyah), ibnu al-arabi dan kemudian juga karya-karya jami’
diajarkan. Tetapi di sebagian besar pusat-pusat sufi, terutama di Turki,
kurikulum akademis terdiri dari hampir seluruhnya buku-buku tentang sufi. Di
Turki waktu itu terdapat beberapa tempat khusus, yang disebut Methnevikhana, di
mana masnawinya rumi merupakan satu-satunya buku yang diajarkan. Lebih jauh
lagi, isi dan karya-karya tersebut yang sebagian besar dikuasai pantheisme,
adalah bertentangan secara tajam dengan ajaran lembaga-lembaga pendidikan
ortodoks. Karena itu timbullah suatu dualisme spiritual yang tajam dan
berlarut-larut antara madrasah dan khalaqah. Ciri khas dari fenomena ini adalah
melimpahnya pernyataan¬- pernyataan sufi yang bertaubat setelah menemukan jalan
yang benar, lalu membakar buku-buku madrasah mereka atau melemparkannya ke
dalam sumur.
Akan tetapi kemunduran, dan kemerosotan mutu pendidikan dan
pengajaran pada masa ini bukan hanya dari aspek diatas. Semua nampak jelas
dalam sangat sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran pada umumnya
madrasah-madrasah yang ada. Dengan telah menyempitnya bidang-bidang ilmu
pengetahuan umum, dengan tiadanya perhatian kepada ilmu-ilmu kealaman, maka
kurikulum pada umumnya madrasah¬-madrasah terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan,
ditambah dengan sedikit gramatika dan bahasa sebagai alat yang diperlukan.
Ilmuilmu keagamaan yang murni tinggal terdiri dari : Tafsir Al-Qur’an, Hadis,
Fiqh (termasuk Ushul Fiqh dan Prinsip-prinsip Hukum) dan Ilmu Kalam atau
Teologi Islam. Bahkan di madrasah-madrasah tertentu Ilmu Kalam pun dicurigai,
dan di madrasah yang diurus oleh kaum sufi yang memang tersebar luas di
negara-negara Islam pada masa itu harus ditambah dengan pendidikan sufi.
Materi pelajarannya sangat sederhana, yang ternyata dari jumlah
total buku-buku yang harus dipelajari pada suatu tingkatan (bahkan tingkat
tertinggi sekalipun) sangat sedikit. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
studi pun relatif singkat. Akibat lanjutnya adalah kekurang mendalamnya materi
pelajaran yang mereka terima, sehingga kemerosotan dan kemunduran ilmu
pengetahuan para pelajarannya pun dapat dibayangkan. Hal tersebut disebabkan
karena sistem pengajaran pada masa itu sangat berorientasi pada buku pelajaran,
dan buka pada pelajaran itu sendiri. Oleh karena itu yang sering terjadi pelajaran
hanya memberikan komentar-komentar atau saran-saran terhadap buku-buku
pelajaran yang dijadikan pegangan oleh guru.
D.
Ulama Yang Terkenal Pada Masa Kemunduran Pendidikan Islam
Tercatat beberapa nama ulama besar yang berperan sebagai pembaharu
bidang pendidikan Islam yang muncul di Timur Tengah, seperti Muhammad Ali
Pasya, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dari Mesir. Kemudian
tercatat nama Muhammad Iqbal dari India dan sebagainya. Pada masa kemunduran
Islam abad 13-18, segala warisan filsafat dan ilmu pengetahuan diperoleh Eropa
dari Islam, ketika umat Islam larut dalam kegemilangan sehingga tidak
memperhatikan lagi pendidikan, maka Eropa tampil mencuri ilmu pengetahuan dan
belajar dari Islam. Eropa kemudian bangkit dan Islam mulai dijajah dan
mengalami kemunduran. Hampir seluruh wilayah dunia Islam dijajah oleh Bangsa
Eropa termasuk Indonesia. Penemuan-penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan dan
teknologi muncul di Eropa. Misalnya dalam bidang mesin, listrik, radio, yang
semuanya itu menunjang semakin kuatnya Eropa terhadap dunia Timur bahkan sampai
ke Indonesia. Dunia jadi berbalik, dunia Timur terpukau dan terbius kemujuan
yang dialami Eropa.
Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum
muslimin dari Bangsa Eropa telah timbul mulai abad ke 11 sampai ke 17 Masehi.
Dengan kekalahan-kekalahan yang diderita oleh Turki Utsmani dalam peperangan
dengan Negara-Negara Eropa. Mereja mulai memperhatikan kemajuan yang dialami
Eropa dengan mengirimkan utusan-utusan untuk mempelajari kemajuan Eropa
terutama dari Prancis dan didirikan sekolah-sekolah Militer di Turki pada tahun
1734.
Dalam membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan
keterbelakangannya, sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan
dalam segala bidang kehidupan, untuk mengejar ketertinggalan dan
keterbelakangan, termasuk usaha-usaha dibidang pendidikan. Kebangkitan kembali
umat Islam khususnya bidang pendidikan Islam adalah dalam rangka untuk
pemurnian kembali ajaran-ajaran Islam dengan pelopor-pelopor di berbagai daerah
masing-masing. Adapun mereka mengemukakan opini kebangkitan dengan mengacu
kepada tema yang sama yaitu adalah :
Ø Mengembalikan ajaran Islam kepada unsur-unsur aslinya, dengan
bersumberkan kepada Al-Qur’an, Hadist dan membuang segala bid’ah, khurafat,
tahayul, dan mistik.
Ø Menyatakan dan membuka kembali pintu ijtihad setelah beberapa abad
dinyatakan ditutup.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tampilnya dinasti
Abasiyah yang menggantikan dinasti Umayyah dalam peradaban Islam membawa corak
baru dalam budaya Islam dan terutama dalam bidang pendidikan Islam. Pada periode
pertama dinasti Abasiyah (132 H/750 M-232 H/847 M), dunia pendidikan Islam mengalami
masa kejayaannya (lahirnya sekolah-sekolah yang tak terhitung banyaknya yang tersebar
dari kota-kota sampai desa-desa) dan sekaligus pada periode kedua dinasti
Abasiyah (847 M-942 M) menjadi awal kemunduran intelektual Islam dan terlihat
nyata pada periode kelima (akhir dinasti abasiyah 1258 M). Hal ini sesuai dengan
siklus sejarah yang bersifat faktual yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam
Muqaddimahnya, yaitu ada generasi perintis, generasi penerus, generasi penikmat,
dan generasi penghancur.
Beberapa hal yang
melatar belakangi dinasti tersebut mundur/hancur, tentunya juga berpengaruh
terhadap pelaksanaan pendidikan Islam di dunia. Adapun beberapa hal yang menjadi
akar kehancurannya yaitu; adanya faktor internal (konflik dalam keluarga
Istana, dominasi militer, keuangan, berdirinya dinasti-dinasti kecil, luasnya
wilayah, dan fanatisme keagamaan/aliran-aliran) dan faktor ekternal (terjadinya
perang salib dan serangan tentara Mongol).
Adapun
Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam yaitu Kejatuhan Baghdad di
Timur dan Cordova di Barat dan kejatuhan cordova.
Kehancuran
total kekuasaan Islam di Baghdad dan
Cordova juga sangat berdampak pada kemunduran pendidikan dan kebudayaan Islam.
Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan buku ilmu pengetahuan di kedua pusat
kota Islam itu menyebabkan mandeknya aktifitas intelektual diseluruh wilayah
Islam. Suasana gelap dan memprihatinkan telah menyelimuti dunia Islam akibat
berbagai krisis yang mencekam.
Tercatat
beberapa nama ulama besar yang berperan sebagai pembaharu bidang pendidikan Islam
yang muncul di Timur Tengah, seperti Muhammad Ali Pasya, Jamaluddin Al-Afghani,
Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dari Mesir. Kemudian tercatat nama Muhammad Iqbal
dari India dan sebagainya.
B.
Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentunya
penulis tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun untuk perbaikan pada makalah-makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. Cet: Ke-3.
Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: kalam mulia.
M.M. Syarif, Muslim Thought Diponegoro, Bandung.
Dra. Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara.
Jakarta, 2011.
Comments
Post a Comment